Social Items

Ingin Cepat Dalam Menghafal? Bacalah Dengan Suara Keras!
Hai sobat Guru Abata, adakah cara atau metode yang kamu miliki untuk menghafalkan sesuatu dengan cepat? Pada kesempatan ini Guru Abata akan membahasnya dalam artikel ini, silahkan simak dan bandingakan dengan metode yang kamu miliki tersebut.

Di lingkungan sekitar kita, sangat lumrah kiranya ketika belajar membaca cukup melakukannya di dalam hati sambil direnungkan dan diresapi.

Namun ternyata suatu penelitian telah mengungkap bahwa membaca dengan cara melafalkannya dengan keras menimbulkan efek yang sangat baik.

Dikutip dari The Verge, terdapat suatu penelitian yang diumumkan di Memory, para ilmuwan membuat suatu penelitian yang diterapkan kepada 75 orang siswa. Masing-masing dari mereka diperintahkan untuk mengatakan 160 kata dengan suara agak keras.

Setelah itu, para siswa tersebut ditugaskan untuk menghafalkan 160 kata tersebut dengan berbagai macam metode pengafalan.

Mulai dari metode menyimak rekaman suara sendiri, membaca kata demi kata, mendengarkan perkataan orang lain, membaca dalam hati, sampai ada pula yang membaca dengan suara keras yang terdengar oleh diri sendiri.

Dua minggu kemudian dilakukan pengujian mengenai kata yang telah mereka hafalkan. Dan rupanya metode yang dianggap paling efektif dalam menghafal adalah membaca dengan suara keras.

Hal tersebut diketahui dari hasil pengujian menghafal, dimana metode menghafal dengan suara yang keras mendapatkan perolehan 77 persen jawaban yang benar. Kemudian disusul oleh metode mendengarkan rekaman suara sendiri, menyimak rekaman suara orang lain, serta metode membaca di dalam hati.

Menurut penuturan dari ilmuwan yang melakukan studi ini, keuntungan dari metode membaca dengan suara keras dalam menghafal adalah kombinasi dari membaca dan mendengarkan bacaan diri sendiri ketika membacanya.

Menghafal dengan membacanya secara keras memiliki korelasi dengan beberapa proses yang terjadi di dalam otak yang menjadikannya lebih aktif dan dapat melibatkan kita dengan kata-kata yang sedang kita baca.

Sobat Guru Abata, menurut kamu selain membaca dengan suara keras, apakah ada cara lain yang lebih efektif agar dapat menghafal dengan baik?

Ingin Cepat Dalam Menghafal? Bacalah Dengan Suara Keras!

Penerapan Disiplin Sekolah Tanpa Menggunakan Kekerasan
Sahabat, tahukah kamu bahwa dalam menerapkan suatu peraturan itu kerap kali disertai dengan hukuman? Guru Abata yakin kamu semua pasti tahu akan hal itu. Namun apakah kamu tahu bahwa penerapan kedisiplinan di sekolah dengan kekerasan akan berdampak buruk terhadap peserta didik?

Keberhasilan suatu lembaga pendidikan biasanya diukur dari keberhasilannya dalam menerapkan kedisiplinan. Hal tersebut kiranya masih tertanam dalam pemahaman masyarakat Indonesia sejak tiga puluhan tahun lalu sampai sekarang. Jadi ketika sekolah memiliki peraturan yang ketat dan menerapkan disiplin kuat, maka akan dikenal sebagai sekolah yang bagus dan unggul.

Banyak orang yang beranggapan bahwa penerapan kedisiplinan di sekolah berhubungan erat dengan hukuman terhadap peserta didiknya. Padahal keduanya tidak ada keterkaitan. Sebab penerapan kedisiplinan dengan hukuman terbukti hanya menghasilkan sikap disiplin yang semu yang timbul dari rasa ketakutan bukan dari kesadaran akan suatu peraturan tersebut.

Pada hakekatnya ada jalan tengah yang dapat diambil antara disiplin dan hukuman. Jalan tengah tersebut dapat diistilahkan dengan konsekuensi. Konsekuensi ini memposisikan peserta didik / siswa sebagai subyek. Setiap peserta didik / siswa yang menjadi subyek kedisiplinan diberi tanggung jawab yang luas dan dibatasi oleh konsekuensi tersebut.

Misalnya saja, peserta didik / siswa yang telat masuk sekolah maka ia dikenai konsekuensi pulang lebih lama dari peserta didik lainnya. Atau bisa juga dengan pemotongan waktu istirahat khusus untuknya.

Lalu jangan hanya sampai disitu saja, apabila peserta didik / siswa melakukan pelanggaran lebih dari dua kali, maka komunikasikan juga dengan orang tua siswa tersebut. Sebab tidak menutup kemungkinan pelanggaran itu diakibatkan oleh masalah dengan orang tuanya.

Biasanya dalam menangani siswa yang terlambat, pihak sekolah menerapkan cara dengan menutup dan mengunci pintu gerbang sekolah. Kiranya kebiasaan tersebut contoh yang sudah lazim diterapkan oleh banyak sekolah di sekitar kita. Setelah bel masuk dibunyikan, pintu gerbang langsung ditutup dan dikunci.

Siswa yang datang setelah ditutupnya pintu gerbang mereka tertahan di luar sekolah karena tidak bisa masuk. Dan secara otomatis siswa yang terlambat tersebut menjadi tontonan warga yang lewat di depan sekolah.

Padahal keterlambatan para siswa itu diakibatkan oleh berbagai sebab, belum tentu mereka semua itu merupakan siswa yang malas. Karena bisa jadi alasan mereka terlambat datang disebabkan oleh faktor cuaca atau keadaan lain yang tidak dapat dihindari.

Pihak sekolah dalam melakukan hal tersebut memang sangat beralasan. Penguncian pintu gerbang dianggap sebagai langkah penerapan kedisiplinan agar membuat peserta didik menjadi sadar bahwa datang tepat waktu merupakan hal yang penting di sekolah.

Namun apakah pihak sekolah sadar telah mempermalukan harga diri peserta didik mereka atas penguncian pintu gerbang tersebut? Bagaimana jika kerabat atau tetangga yang mengenalinya lewat di depan sekolah saat mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam sekolah karena gerbangnya pun dikunci?

Padahal kalau saja sekolah mau menerapkan konsekuensi pada siswa yang terlambat, sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menindaknya. Misalnya dengan memangkas jam istirahat atau menyuruh mereka berangkat sekolah di hari Sabtu atau Minggu ketika teman lainnya sedang libur.

Dengan begitu harga diri peserta didik / siswa tidak jatuh dan mereka akan semakin bertanggung jawab pada semua tindakan yang dilakukannya. Mereka juga akan semakin sadar bahwa konsekuensi yang diterapkan oleh sekolah memiliki tujuan untuk menyadarkannya dengan cara mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka.

Berikut ini adalah beberapa perbandingan sifat dan akibat antara hukuman dan konsekuensi yang diterapkan kepada peserta didik / siswa:

HUKUMAN

1. Memposisikan siswa sebagai pihak yang tidak memiliki hak untuk bernegosiasi dan cenderung tidak berdaya. Guru sebagai pemberi hukuman adalah pihak yang sangat memegang kendali dan berkuasa atas apa yang dilakukannya terhadap siswa tersebut.

2. Jenis dan kadarnya tidak menetu, tergantung guru. Apabila suasana hati guru tersebut sedang baik, maka siswa yang terlambat pun bisa saja dibiarkan, namun sebaliknya jika suasana hatinya sedang tidak baik.

3. Bisa diberikan berlipat ganda, apalagi jika siswa tersebut merupakan orang yang sering melanggar tata tertib sekolah.

4. Selalu bersifat ancaman dan memaksa. Lalu gurunya cenderung memberi label jelek terhadap siswa yang sering melanggar tata tertib sekolah.

KONSEKUENSI

1. Diberikan ketika ada pelanggaran yang terjadi dan disesuaikan berdasarkan pada peraturan yang telah disepakati bersama.

2. Terhindar dari perilaku memberi label / cap baik atau buruk kepada peserta didik. Karena dengan pemberian label tersebut akan menimbulkan stigma tertentu pada diri siswa yang akan selalu melekat pada dirinya.

3. Menjadikan peserta didik akan bertanggung jawab pada setiap tindakan yang dilakukannya.

Hukuman yang banyak diterapkan sekolah kerap kali menjadi penyebab masalah yang berdampak buruk pada peserta didik. Bahkan tidak sedikit hukuman yang diterapkan menimbulkan tindak kekerasan terhadap peserta didik / siswa.

Demikianlah yang dapat Guru Abata sampaikan mengenai penerapan kedisiplinan di sekolah tanpa menggunakan kekerasan terhadap peserta didik. Semoga artikel tentang kedisiplinan di sekolah ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin...

Penerapan Disiplin Sekolah Tanpa Menggunakan Kekerasan

Inilah Beberapa Alasan Mengapa Anak Merasa Bosan Di Sekolah
Banyak faktor yang dapat berpengaruh terhadap suasana hati atau mood anak ketika berada di sekolah.

Oleh sebab itu, rasa bosan ketika berada di sekolah sangat lumrah terjadi pada setiap anak, apalagi jika anak tersebut memang malas belajar di sekolah.

Berikut ini masfajrin akan membahas tentang beberapa alasan anak merasa bosan di sekolah. Kurang lebih terdapat empat alasan yang biasanya terjadi pada anak sekolah.

1. Kurang Termotivasi

Anak sekolah yang tidak memiliki motivasi belajar biasanya enggan memperhatikan pejelasan guru saat pembelajaran berlangsung, atau bisa juga tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah.

Meskipun demikian, tapi anak ini belum tentu anak yang malasa. Mungkin saja ia berpikiran bahwa materi yang sedang dipelajarinya tidak terlalu penting. Atau bahkan bisa jadi hal seperti ini merupakan pertanda anak tersebut mengalami depresi.

2. Kurang Tertantang

Seorang anak yang dapat memahami materi pembelajaran dengan cepat terkadang memiliki keluhan bosan berada di sekolah. Biasanya penyebab utama dari hal tersebut adalah karena merasa kurang tertantang pada tugas atau materi yang diberikan.

Akan tetapi, walaupun anak ini tergolong cerdas, mereka tetap butuh pengawasan agar tidak melakukan hal yang ceroboh dalam menyelesaikan tugas dan sering tidak belajar.

Meskipun nilai yang diperolehnya memiliki hasil yang tinggi, tapi dalam prosesnya ia tetaplah anak yang merasa bosan di sekolah.

3. Merasa Tidak Dekat Dengan Guru Atau Teman

Alasan ini akan membuat anak merasa terisolasi karena tidak ada orang lain yang bermain dan membantunya di sekolah. Sehingga keadaan tersebut ia artikan sebagai rasa bosan tatkala di sekolah.

Apabila masalah ini menjadi penyebab utama ia bosa di sekolah, maka berilah ia pemahaman yang meyakinkan bahwa dirinya adalah bagian dari teman-teman dan gurunya di sekolah.

4. Mengalami Kesulitan Dalam Proses Pembelajaran

Perasaan bosan akan hinggap pada anak yang menemui kesulitan dalam melaksanaan proses belajarnya di kelas. Akibatnya ia akan menjadi malas untuk mengikuti pembelajaran.

Hal ini bisa saja disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa jadi karena metode pembelajaran kurang tepat, guru tidak mengajak murid untuk berperan aktif dalam pembelajaran atau bahkan pikirannya terbagi karena ada masalah dengan keluarganya di rumah.

Perasaan bosan di sekolah dapat muncul pada setiap anak disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut di atas.

Namun bagaimana pun juga alasan yang terjadi pada anak yang merasa bosan di sekolah adalah tanggungjawab guru selaku orang yang diamanahi oleh orang tua mereka.

Sebaiknya guru harus membuat inovasi pembelajaran yang lebih baik dan selalu melakukan pendekatan kepada peserta didik yang kedapatan tidak memperlihatkan sikap semangat ketika proses pembelajaran berlangsung.

Inilah Beberapa Alasan Mengapa Anak Merasa Bosan Di Sekolah

5 Hal Yang Dapat Membuat Seorang Guru Menjadi Profesional
Hai sahabat masfajrin. Tahukah kamu bahwa ada 5 hal yang dapat membuat seorang guru menjadi profesional? Beberapa hal tersebut akan kita bahas dalam artikel ini.

Seorang guru yang setiap hari mengajar di sekolah memiliki dua landasan sebagai perumpamaan perjalanan karirnya. Yang dari keduanya memiliki perbedaan sangat mendalam.

Landasan pertama adalah guru pasif. Guru macam ini merupakan guru yang tidak ingin berkembang karena terjebak rutinitas. Apa yang dilakukannya di sekolah hanya bekerja dengan mengharapkan gaji dan tunjangan pada setiap akhir bulan.

Landasan kedua adalah guru aktif. Guru yang memiliki kecintaan terhadap profesinya dan selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri karena dengan mengajar dan menyampaikan ilmu hidupnya menjadi barokah dan bermanfaat.

Nah, jika kamu adalah seorang guru, perumpamaan manakah yang ingin kamu jadikan sebagai landasan? Maka sudah tentu pilihan akan berlabuh pada landasan yang kedua. Bagaimana cara untuk menempuh landasan tersebut?

Jawabannya adalah guru harus memiliki karakter. Sebuah karakter yang sudah seharusnya ada dalam jiwa seorang guru sebagai bekal dalam aktivitasnya menjalankan profesi guru. Apa sajakah karakter yang dapat membentuk seorang guru menjadi guru profesional? Sekiranya guru profesional harus memenuhi lima karakter dalam dirinya.

5 Karakter Untuk Menjadi Guru Profesional


1. Percaya Diri

Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar guru merasa malas dan sukar untuk mempersiapkan segala kebutuhan pengajarannya di kelas. Karena ia menganggap semua yang akan disampaikannya di kelas sudah terpikirkan semuanya di luar kepala. Jika demikian bisa dikatakan bahwa ia merupakan guru yang anti terhadap pembelajaran di kelas.

Padahal guru yang memiliki rasa percaya diri tidaklah seperti itu. Guru yang percaya diri akan berusaha maksimal dalam setiap membuat persiapan pembelajaran dengan tetap merasa percaya diri bilamana menghadapi masalah yang muncul saat kegiatan belajar dilaksanakan.

Ia yakin bahwa serumit apapun masalah yang terjadi ketika penyampaian pengajaran, akan tetap memberikan pembelajaran yang berharga bagi profesi mengajarnya di masa yang akan datang.

2. Rendah Hati

Guru yang rendah hati akan memiliki hati terbuka yang mudah untuk menerima hal-hal baru yang positif. Di hadapan peserta didik atau rekan sejawatnya ia selalu berterus terang jika tidak tahu.

Wajar saja dengan pesatnya perkembangan teknologi dan mudahnya penyampaian informasi benar-benar membuat semua orang harus lebih banyak belajar dan siap untuk menjadi insan pembelajar. Hal tersebut akan menyebabkan ia menjadi rekan belajar yang menyenangkan bagi peserta didik dan rekan sejawatnya.

Karakter rendah hati juga akan menjadi sebuah jembatan bagi pengetahuan baru. Jika pada suatu sekolah semua gurunya memiliki karakter rendah hati, maka akan terjadi tranfer ilmu yang baik dan membentuk komunitas pembelajar, oleh sebab setiap orang dihargai dari apa yang disampaikan dan diberikannya bukan dari senioritasnya di sekolah.

3. Pemikiran Terbuka

Guru yang pemikiran terbuka akan lebih mudah untuk menerima keberagaman dan senang akan pembaruan yang positif. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan dan dapat menjadi pemenang pada bidangnya masing-masing.

Ketika seorang guru berpikiran terbuka, ia akan berusaha maksimal dalam membentuk setiap peserta didiknya untuk menggapai masa depan sesuai potensi yang dimilikinya.

Dengan pemikiran terbuka juga akan memudahkan seorang guru untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman baru dari mana saja karena ilmu dapat diperoleh dari manapun, siapapun dan kapanpun.

4. Menghargai Proses

Setelah mengajar terkadang guru pulang dalam keadaan lelah. Kadang juga dirundung kebosanan dalam hati sambil bergumam “beginikah rasanya menjadi seorang guru?”. Sebagai manusia biasa dapat dimaklumi jika perasaan tersebut datang menghinggapi seorang guru. Namun perasaan-perasaan tersebut akan sirna jika seorang guru dapat menghargai proses.

Apabila suatu waktu kita belum berhasil dalam pembelajaran, maka hargailah usaha yang telah kita lakukan selama ini. Sebab jika selalu mengingat kegagalan tanpa menghargai proses usaha yang telah dilakukan, akan menghambat motivasi kita untuk membuat inovasi dalam pengajaran.

Ingat, jangan jadikan peserta didik menjadi korban yang disebabkan oleh seorang guru yang tampil biasa saja dan miskin inovasi.

5. Pintar Mengelola Waktu

Setiap minggunya, seorang guru tidak hanya mengajar di depan kelas saja, akan tetapi memiliki tugas administrasi yang harus diselesaikan secara berkala. Dalam hal ini guru dituntut untuk bisa mengelola waktu dengan baik.

Karena bukan hanya peserta didik yang memiliki hak atas diri kita, namun keluarga juga memiliki hak untuk kita perhatikan kebutuhannya. Guru yang pintar dalam mengelola waktu dapat membedakan skala prioritas dalam bertugas, mana yang harus didahulukan dan mana yang dapat diselesaikan secara bertahap.

Demikian 5 hal yang dapat membuat seorang guru menjadi profesional yang dapat masfajrin sampaikan pada kesempatan ini. Semoga kita berprofesi sebagai gur dapat memiliki 5 unsur tersebut agar menjadi guru yang profesional. Aaamiin...

5 Hal Yang Dapat Membuat Seorang Guru Menjadi Profesional

Apakah Wajar Anak Kelas Satu SD Masih Belum Bisa Membaca?
Biasanya kita tahu bahwa anak yang masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD) sudah mampu membaca, menulis dan menghitung.

Akan tetapi jika anak kelas satu tersebut belum bisa membaca, sebaiknya orang tua tidak terlalu mengkhawatirkan masalah tersebut!

Pada umumnya anak-anak sudah mampu membaca sejak duduk di kelas satu SD. Namun usia dan tingkat kelas tersebut bukan merupakan ukuran khusus anak sudah mampu membaca.

Peran orang tua sangat diperlukan pada persoalan ini untuk memahami kondisi psikolog sang anak.

Anak kelas satu SD ditekankan untuk selalu belajar membaca dan menulis. Dalam tingkatan tersebut ada sebagian anak yang berkembang lebih cepat dan ada pula yang lebih lambat atau biasa saja.

Oleh sebab itu, orang tua harus dapat mengajak anak untuk mengembangkan kemampuan fisik dan psikologisnya dalam belajar membaca dan menulis.

Karena pada dasarnya masing-masing anak mempunyai usia pertumbuhan yang beragam. Sehingga pada usia anak yang sama ada kemungkinan seorang anak sudah mampu melakukan sesuatu lebih cepat, sedangkan anak lain seusianya berkembang cukup lambat.

Namun demikian, anak dengan kemampuan berkembang kurang cepat tidak berarti bermasalah. Hal itu sangat wajar terjadi karena perkembangan anak berbeda-beda meskipun pada usia yang sama.

Orang tua harus mampu memahami keterlambatan pada kemampuan membaca yang dimiliki oleh sang anak. Serta melakukan berbagai pendekatan dan metode untuk mendorong minat dan bakatnya dalam membaca dan menulis.

Mengapa harus orang tua yang melakukan hal tersebut?

Karena orang tua merupakan orang terdekat bagi anak. Sedangkan guru di sekolah tidak hanya mendidik pada satu anak saja, meskipun mungkin saja guru di sekolah sudah berupaya memberikan perhatian dan pembelajaran khusus bagi anak tersebut.

Namun tetap saja orang tua tidak bolhe berpangku tangan melihat fenomena seperti ini. Ia harus berperan aktif dalam mengembangkan kemampuan membaca dan menulis anaknya sendiri.

Demikian pembahasan pada artikel mengenai anak kelas satu sekolah dasar yang belum bisa membaca ini Guru Abata sampaikan. Semoga bermanfaat bagi guru dan orang tua yang kesulitan menghadapi masalah mengenai anak kelas satu sekolah dasar yang belum bisa membaca.

Apakah Wajar Anak Kelas Satu SD Masih Belum Bisa Membaca?

Hentikan Kekerasan Kepada Anak Sekarang Juga!
Hai sahabat Guru Abata, selamat menjalankan aktivitas. Semoga hari ini menjadi hari yang baik untuk mengawali rutinitas keseharian kita. Sahabat, kali ini Guru Abata akan membagikan artikel mengenai kekerasan pada anak-anak dengan judul hentikan kekerasan kepada anak sekarang juga!

Artikel ini didedikasikan untuk para orang tua. Karena orang tua merupakan sosok pendidik yang berperan penting untuk pembentukan karakter anak dalam menyikapi kehidupan. Dari mereka seorang anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan berwawasan. Karena orang tua adalah sekolahnya anak-anak, khususnya seorang ibu.

Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu mendidik anak dengan baik sesuai yang diharapkan. Bahkan di lingkungan sekitar kita tidak jarang mendengar masalah-masalah tindak kekerasan yang melibatkan orang tua hingga berhadapan dengan aparat kepolisian dalam mengurus dan mendidik anak-anak.

Oleh sebab itu, Guru Abata ingin sedikit berbagi artikel yang berkenaan dengan hal tersebut memiliki tujuan agar kita semua dapat menyampaikan kebaikan bagi orang di sekeliling kita, menyadarkan orang yang harus disadarkan.

Jadi, walaupun sahabat Guru Abata bukan atau belum menjadi sosok orang tua, tapi sekiranya dapat mengetahui dan menyampaikannya kepada orang lain di sekitar kita agar melakukan yang benar dalam menghadapi anak.

Anak merupakan karunia Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang diberikan kepada orang tua sebagai amanah untuk dididik dan dibesarkan dalam segala kebaikan guna menjadi pribadi yang baik pula. Anak terlahir di dunia dalam keadaan lemah dan tidak mengetahui hal apapun. Hanya dari orang tua anak dapat memulai memahami sesuatu dalam hidupnya.

Oleh sebab itu, orang tua-lah yang bertugas untuk mendidik dan mengajarkan anak berkenaan dengan hal-hal yang dapat membuatnya menjadi orang baik dan berguna bagi orang lain.

Akan tetapi terkadang banyak orang tua yang belum memahami betul tentang bagaimana cara mendidik anak meskipun telah memiliki banyak anak. Sehingga sering kali dalam mendidik anaknya, mereka menerapkan cara yang tidak layak bagi seorang anak yaitu dengan tindak kekerasan.

Padahal orang tua semacam itu tanpa sadar perlahan-lahan akan membentuk anak memiliki sifat-sifat yang buruk akibat dari penanaman tindak kekerasan tersebut.

Meskipun mungkin tujuan mereka sebenarnya ingin mengajarkan kebaikan dan memberi pelajaran bagi anaknya, namun caranya tersebut kurang baik. Anak malah akan mengalami trauma pada sesuatu dan bahkan bisa menjadi anak yang penakut dan sering merasa minder. Hal ini sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak itu sendiri.

Sebab, lambat laun seiring berjalannya waktu ia akan tumbuh semakin dewasa, bisa jadi ia akan menjadi anak yang suka membentak orang tuanya dan cenderung menjadi anak yang berkepribadian kasar, baik kepada orang tuanya juga kepada orang lain.

Mungkin banyak orang tua yang beranggapan bahwa mendidik anak dengan cara kekerasan akan membentuk anak yang patuh dan penurut.

Namun mendidik dengan penerapan kekerasan bukanlah cara yang terbaik. Tidak semua hal dalam mendidik anak dapat diselesaikan dengan cara bentakan dan tindak kekerasan. Masih banyak metode lain dalam mendidik anak yang dapat dilakukan orang tua ketika seorang anak melakukan hal yang tidak pantas atau tidak layak baginya.

Oleh sebab itu, setiap orang tua harusnya mengerti dan bisa bersikap bijak dalam memperlakukan anak dengan memberi mereka cara mendidik terbaik dan bijak. Jangan sampai melakukan tindakan yang ker4s dalam mendidiknya.

Apapun alasannya, ajarilah mereka dengan penuh kasih sayang dan berilah pemahaman kepada mereka dengan kelembutan. Karena sesungguhnya pendidikan yang paling baik adalah dengan cara pemberian uswah, yaitu memberi mereka teladan yang baik dalam bersikap dan bertindak.

Anak adalah cerminan dari orang tuanya sendiri. Anak yang cenderung berbuat jelek bisa jadi karena orang tuanya mencontohkan hal-hal yang jelek. Atau bisa juga karena orang tuanya mendidik dengan cara yang kurang baik sehingga berdampak pada pembentukan karakter anak tersebut.

Sehingga sudah sepatutnya orang tua harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Karena seorang anak akan melihat dan mengikuti tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan orang tuanya terlebih dahulu sebelum kepada orang lain.

Demikian pembahasan tentang hentikan kekerasan kepada anak ini Guru Abata sampaikan. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali ulasan di atas terdapat kekurangan, mungkin dari sahabat ada yang ingin menambahkan mengenai bagaimana cara yang paling tepat untuk mengentaskan kekerasan kepada anak yang dilakukan oleh orang tua.

Hentikan Kekerasan Kepada Anak Sekarang Juga!